Selasa, 18 November 2008

eksistensialisme

Man can count on no one but himself; he is alone, abandoned on Earth in the midst of his infinite responsibilities, without help, with no other aim than the one he sets for himself, with no other destiny than the one he forges for himself on this Earth.
(Disampaikan di University of Charleston, 20 November 1991, pada seri “Living Philosophy”)

James A. Haught

Selamat malam. Nama saya Jean-Paul Sartre. Mahasiswa yang datang pada malam ini mungkin masih terlalu muda untuk mengenal saya, tapi para hadirin yang berusia separuh baya pasti ingat bahwa saya pernah menyebabkan kontroversi besar di era pasca Perang Dunia II, dimana perang tersebut merupakan kecaman dan kritik saya yang tiada habis.

Yang ingin saya yakinkan disini—tanpa mengindahkan apapun yang pernah Anda dengar—adalah bahwa hidup saya telah memenuhi tujuan mulia: Saya membantu orang-orang yang berusaha memahami kehidupan individu mereka di tengah kekacauan dan kegilaan dunia, serta menekankan pentingnya perjuangan demi meningkatkan kondisi hidup manusia.

Pesan saya sederhana sekali: Kita lahir pada keberadaan yang tidak terkira dan tidak ada tujuan atau hubungan mulia antara kita dan alam semesta—hanya sepotong kehidupan yang kadang absurd atau pelik. Satu-satunya nilai valid adalah nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri.
Eksistensi—kenyataan yang melingkupi kita semua—adalah jantung dari filsafat eksistensialisme yang saya kemukakan. Hanya eksistensilah yang menjadi pusat perhatian kita, dan hal tersebut harus kita pandang dengan sudut kesinisan seorang ilmuwan.

Prilaku manusia adalah kumpulan aneh dan tidak beraturan atas perhatian dan kekasaran, keserakahan dan kedermawanan, kekerasan dan kelembutan. Konsep yin dan yang dari Cina—kebaikan dan kejahatan yang berpadu dalam setiap manusia—adalah gambaran tepat dalam menjabarkan psyche manusia. Di dunia ini, cinta dan kengerian bercampur-baur dan ada dimana-mana. Manusia sangat mampu melakukan tindakan jahat terhadap satu sama lain. Di Amerika modern sekarang ini terjadi 23.000 kasus pembunuhan dan 100.000 perkosaan tiap tahun—sebagian besar tanpa ada alasan logis. “Hell is other people” ([definisi] neraka adalah orang lain selain saya) merupakan kata kunci pada salah satu drama yang saya buat.

Sementara itu banyak keberuntungan acak mengendalikan mayoritas kehidupan manusia. Kesempatanlah yang membuat orang berpunya, jadi intelek, atau sehat; sementara yang lain lahir menderita dan mati muda. Dengan sedikit kebetulan, sebagian manusia terlahir sebagai orang Amerika dengan begitu banyak hak istimewa sementara yang lain menjadi bangsa Ethiopia kelaparan. Di Dunia Ketiga, 40.000 anak-anak meninggal meregang nyawa tiap hari karena kurang gizi. Orang yang tinggal di sebelah Utara malah tidak pernah tahu ada kejadian seperti itu.

Grand Order (Tataran Terhebat) di dunia itu tidak pernah ada. Tidak ada Tuhan yang menempatkan manusia di dunia sebagai medan pengujian, dimana yang jahat bakal pergi ke neraka dan yang baik mendapat surga. Kepercayaan supernatural seperti itu sungguh konyol, dan kenyataan bahwa milyaran manusia tetap memegang teguh keyakinan mereka dan adanya gereja yang menyebarkannya hanya menggarisbawahi betapa spesies manusia adalah mahluk bertakhayul. (Selama berabad-abad jutaan orang saling bunuh demi agama dan melakukan pengorbanan manusia untuk dewa-dewa tak kasat mata. Rasanya bukti itu sudah cukup menunjukkan adanya kegilaan yang merayap diam-diam layaknya monster dalam diri kita)
Satu lagi ranah yang lebih logis, banyak orang percaya adanya “sifat manusia”, esensi universal yang membuat kita mendamba kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Tapi para eksistensialis menolaknya. Kami menganggap manusia hanyalah mahluk biologis, dan pengkondisian oleh budaya dan keluarga membentuk sifat masing-masing manusia. “Eksistensi ada sebelum esensi” adalah prinsip dasar filosofi kami.

Alam semesta tidak perduli terhadap Anda dan saya. Tidak ada “benar dan salah”. Tapi manusuia membutuhkannya. Jika orang kulit putih menggantung seorang kulit hitam di pohon, pohon itu tidak peduli. Jika seorang anak meninggal karena difteri, mikroba difteri tidak ambil pusing. Jika 10.000 prajurit Makedonia dalam formasi tempur besar-besaran membantai penduduk Yunani di bawah sinar mentari Mediterania—atau jika bom ‘pintar’ Amerika membunuhi 200.000 penduduk Irak—matahari akan tetap saja bersinar bagi para pembunuh dan korban mereka. Alam tidak peduli.

Akan tetapi “benar dan salah” adalah alat manusia yang paling penting—peraturan berdasar konsensus bersama guna mencegah rasa sakit dan memperbaiki kehidupan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak penting bagi alam semesta, namun sangat berarti untuk kerabat dan sahabat kita.

Karena kita terlahir di dunia dimana tidak ada Tuhan yang mendiktekan peraturan, atau esensi biologis yang mengatur prilaku; maka tiap manusia yang mampu berpikir sesungguhnya berdiri sendiri dalam memilih bagaimana dia hidup. “Manusia dikutuk untuk menjadi bebas” adalah istilah yang saya gunakan pada situasi ini. Disamping semua pengaruh pengkondisian yang membentuk kita, pada akhirnya adalah masing-masing individu itu sendiri yang harus menentukan bagimana dia harus bertindak. Bahkan jika kita meminta orang lain sebagai pembimbing, kita tetap membuat pilihan personal. Kita meminta nasihat pastur adalah tindakan memilih agama; sementara meminta nasihat pada seorang professor agnostik berarti memilih humanisme. Kita sama sekali tidak bisa menghindar untuk tidak memilih dalam hal apapun—bahkan tidak berbuat apa-apa pun merupakan pilihan. “Kebebasan radikal” adalah label yang ditempelkan pada kondisi ini. “Tidak ada realitas kecuali dalam tindakan” adalah pendapat saya. Dan kita tidak bisa menghindar dari konsekuensi atas tindakan tersebut.


”Perasaan tertinggal”, “kesedihan mendalam” dan “putus asa” adalah kata kunci utama pada eksistensialisme ateistik—namun sesungguhnya itu tidak separah yang Anda pikirkan. Perasaan tertinggal (abandonment) hanyalah ketiadaan Tuhan, sehingga kita sendirian mencari jalan. Kesedihan mendalam (anguish) adalah perasaan ketika kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menanggung beban tanggungjawab atas apa yang kita lakukan, sementara kita sendiri memiliki keharusan bertindak. Putus asa (despair) adalah ketika kita sadar bahwa kita hanya bisa bergantung pada diri sendiri—mereka yang memiliki keyakinan sama bisa saja berbalik dan meninggalkan kita sendirian.

Disamping semua ketidakpastian dan kesia-siaan hidup, setiap orang harus mengembangkan integritas personal dan berusaha keras memperbaiki rasa kemanusiaan kumpulannya. Tidak ada hukum universal maupun hukum langit—namun kita harus mengadopsi nilai-nilai pribadi dan berusaha menepatinya. Ini adalah satu-satunya hidup yang ‘otentik’. Hal-hal berikut ini juga bisa dilakukan:
–Jangan pernah berhenti mendukung alasan dibalik semua hal — meskipun 900 orang di Jonestown menelan sianida dan memberikan racun tersebut ke anak-anak mereka.
– Jangan pernah berhenti mencari keadilan dan kesopanan — meskipun pasukan pembantai dari sayap kanan memperkosa dan memenggal para perempuan di El Salvador . (Nama negara tersebut, yang artinya “Sang Penyelamat”, adalah ilustrasi betapa tidak rasionalnya kehidupan.)
– Jangan pernah berhenti berusaha menyelesaikan perbedaan dalam komunitas melalui negosiasi logis — meskipun lebih dari 100 perang lokal terjadi sejak Perang Dunia II dan mengakibatkan penderitaan dimana-mana.
– Jangan pernah berhenti percaya bahwa lelaki dan perempuan sama-sama memerlukan satu sama lain dan anak-anak membutuhkan orangtua — meskipun setengah dari seluruh perkawinan yang ada berakhir getir dan 2.000 lelaki Amerika memukuli pasangan perempuan mereka hingga mati setiap tahunnya.
– Jangan pernah berhenti mendukung kebebasan setiap orang memeluk keyakinan yang mereka pilih, atau untuk tidak bertuhan sekalipun — meskipun Muslim Syiah di Iran menggantung para remaja Baha’i yang tidak ingin pindah agama, atau teroris Katolik menembaki gereja Pantekosta di Irlandia, atau para Sikh membantai kaum Hindu demi tercapainya “Tanah Suci”.
– Jangan pernah berhenti mencari keadilan sosial — meskipun polisi-polisi Texas menenggelamkan para pelanggar batas dari Meksiko dan rekan mereka di Los Angeles memukuli para pelanggar rambu lalulintas.
Meskipun kita sering melihat kegilaan dan kekejaman pada struktur kehidupan manusia, manusia-manusia yang mampu berpikir mempunyai tugas untuk bekerja tanpa lelah dalam mengantisipasi kegilaan dan kekejaman tersebut. Jika kita gagal melakukannya, maka kita membiarkan kejahatan menang. Bahkan jika kita sadar bahwa taruhannya adalah nyawa, dan kita tahu betul bahwa usaha terbaikpun tidak akan menghasilkan apa-apa, kita tetap harus berusaha. Ini adalah “keterikatan”.

Pada salah satu film modern kalian berjudul “Oh God” terdapat pesan humanis dan agnostik: Pencipta fiktif di dalamnya berkata, “Kalian sudah memiliki apapun di bumi ini yang dapat membuat hidup kalian menjadi baik. Sekarang terserah kalian bagaimana menggunakannya”. Ini adalah sebuah kewajiban bagi seorang eksistensialis, atau siapapun yang peduli terhadap kemanusiaan.

Sedikit tentang saya dan bagaimana peran saya di dunia:
Saya lahir di Paris tahun 1905 sebagai anak tunggal. Ayah saya Marinir dan meninggal ketika saya masih bayi. Ibu—anggota keluarga ningrat terpelajar dan kemenakan seorang dokter-humanis-musisi besar Albert Schweitzer—membawa saya pulang ke tempat ayahnya, seorang professor yang mengajar di Sorbonne.

Tubuh saya kecil dan saya anak rumahan dengan mata yang tidak bisa fokus. Saya tidak punya teman bermain. Ibu saya sering membawa saya berjalan-jalan di taman, mengunjungi kelompok-kelompok yang sedang berkumpul disana dan tidak ada satupun yang mau menerima saya. Akhirnya saya menyendiri di lantai enam apartemen kami, pada “ketinggian dimana mimpi berdiam” dan tenggelam dalam dunia ajaib bernama buku dan gagasan.
Saya berprestasi di sekolah hingga pada tahun 1920an terpilih untuk masuk Superior Normal College yang prestisius. Disana saya memimpin sekelompok mahasiswa yang sering berkumpul di kamar saya. Saat itulah saya bertemu Simone de Beauvoir, seorang gadis cerdas yang tidak punya kesempatan menikah dalam masyarakat Perancis yang borjuis karena keluarganya sangat miskin dan tidak mampu menyediakan mas kawin. Kami saling cinta dan saling mendampingi seumur hidup (meskipun saya sering memiliki beberapa kekasih pada saat bersamaan).

Ada dua filsuf Jerman yang sangat berpengaruh dalam hidup saya: Edmund Husserl yang mengatakan bahwa silang pendapat para filsuf mengenai prinsip abstrak adalah sia-sia; dan Martin Heidegger yang menganggap manusia memiliki dunia yang tidak terpahami, dikutuk untuk mati tanpa tahu mengapa kita ada disini.

Setelah lulus tahun 1929 saya mengajar di Le Havre , Laon dan akhirnya Paris . Tahun 1938 saya menerbitkan novel pertama berjudul Nausea, tentang buku harian seorang manusia yang tersiksa dan diasingkan dari dunia fisik, bahkan dari tubuhnya sendiri. Tahun 1939 saya dikenakan wajib militer kemudian maju perang melawan Jerman dan menghabiskan waktu di penjara selama setahun. Ketika akhirnya dibebaskan tahun 1941, saya kembali mengajar dan menulis. Tahun 1943 saya menerbitkan buku berjudul Being and Nothingness, menegaskan bahwa pikiran—yang sama sekali tidak terdiri dari hal fisik—lepas dari peraturan deterministik yang biasa dikenakan pada materi.

Setelah perang, ajaran saya mengenai hidup yang tidak memiliki perasaan menjadi sensasi internasional. Kengerian perang—dan pembantaian sistematis terhadap enam juta bangsa Yahudi karena ‘kejahatan’ mereka yang menyimpang dari budaya agama berbeda—adalah bukti terkuat atas pesan saya.

”Ketika kita dihadapkan pada absurditas eksistensi, perang adalah penguat yang hebat,” ujar sebuah jurnal populer. (Padahal banyak bukti bertebaran sebelum PD II. Jutaan Yahudi dibunuhi oleh Kristen Eropa—itu jika mereka tidak terlalu sibuk membantai Muslim pada Perang Salib, atau menghabisi sesame Kristen saat Reformasi, maupun menyiksa pada bid’ah waktu terjadi Inkuisisi, atau membakari para perempuan dalam perburuan penyihir. Sementara peperangan yang terjadi tidak terhitung banyaknya. Kekejaman yang tidak masuk akal melimpah-ruah dalam sejarah.)

Tahun 50an eksistensialisme adalah kegilaan dunia dan sangat mengubah budaya Barat. Drama “Theater Absurd”, novel “Anti-hero”, film-film “new wave” dan semacamnya membentur mitologi tradisional mengenai pahlawan agung mengalahkan penjahat laknat. “Moralitas baru” tentang nilai-nilai yang tidak pasti menyerang agama dan kepercayaan. Kemarahan menjadi dimensi yang hampir tidak saya kenali, kemudian saya pungkiri.

Saya berhenti mengajar kemudian menulis hingga akhir hidup saya. Saya terus menyerukan apa yang saya pikirkan. Saya mendukung Marksisme sebagai rencana terbaik bagi kesejahteraan umat manusia, tapi saya menolak masuk partai komunis Perancis dan ngeri melihat kebrutalan Soviet. Kegilaan dunia memudar dan pengaruh saya hilang. Semua itu kembali muncul ketika tahun 1964 saya dianugerahi Nobel untuk sastra, yang saya tolak—satu-satunya orang yang menolak penghargaan tersebut—karena anugerah tersebut tidak lebih dari perwakilan borjuasi yang terjebak dalalm kesuksesan dan saya lawan mentah-mentah dari awal. “Seorang penulis harus menjaga agar dirinya tidak dijadikan sebuah institusi,” kata saya kepada panitia Nobel.
Tahun 1970an saya buta, kesehatan saya memburuk dan saya kehilangan kemampuan menulis. “Saya kehilangan alasan untuk ‘menjadi’,” kata saya pada beberapa teman. Akhir itu datang tahun 1980, pada usia saya yang ke 74. Saya harap apa yang saya tinggalkan adalah kebenaran dasar untuk dimengerti orang lain. Saya tidak pernah berkhotbah tentang keputusasaan, atau bahkan merasakannya, meskipun kosakata eksistensialisme cenderung gelap. Saya mendukung tindakan menantang bahaya dalam mencari kemenangan hingga batas terjauh. Saya tinggalkan kalian dengan ringkasan pemikiran saya:

“Manusia tidak bisa bergantung selain pada dirinya sendiri; sendirian, ditinggalkan di dunia dalam tanggungjawab tanpa batas, tanpa bantuan, tanpa tujuan selain yang dia tetapkan sendiri, dan tanpa takdir kecuali yang dia usahakan sendiri di dunia ini.”

Sabtu, 08 November 2008

martii ahtisaari


Martti Ahtisaari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Martti Ahtisaari
Martti Ahtisaari

Masa jabatan
1 Maret 19941 Maret 2000
Pendahulu Mauno Koivisto
Pengganti Tarja Halonen

Lahir 23 Juni 1937 (umur 71)
Viipuri, Finlandia
Kebangsaan Finlandia
Partai politik Sosial Demokratik
Suami/Istri Eeva Irmeli Ahtisaari

Martti Oiva Kalevi Ahtisaari (IPA: [ˈmɑrti ˈoivɑ ˈkɑlevi ˈɑxtisɑ:ri]) (lahir di Viipuri (sekarang Vyborg di Rusia)), 23 Juni 1937; umur 71 tahun) adalah Presiden Finlandia periode 1 Maret 19941 Maret 2000. Ia juga seorang diplomat atau Utusan Khusus dan mediator PBB urusan status Kosovo. Selain, sebagai diplomat dan mediator untuk PBB dengan reputasi internasional.


[sunting] Seorang mediator

Pertama kali, ia diminta untuk menengahi konflik Aceh pada Februari 2004. Ia membutuhkan sekitar delapan bulan untuk menyelesaikan naskah kesepahaman Helsinki dan ia tampil sebagai aktor utama di balik penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005. Atas perannya itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama pada 18 Agustus 2006 di Istana Merdeka, Jakarta. Ia memimpin lembaga internasional Crisis Management Initiative sejak 2000. Ia melanglang buana ke mana-mana untuk mengupayakan penyelesaian konflik. Ia pernah mempertemukan Viktor Chernomyrdin dengan Slobodan Milosevic untuk mengakhiri pertikaian di Kosovo pada tahun 1999.

Atas jasa-jasanya dalam mengusahakan perdamaian dunia, pada tahun 2008 ia dianugerahi Nobel Perdamaian.




biografi martti ahtisaari2

Presiden Finlandia ke-10
Masa jabatan1 : Maret 1994 – 1 Maret 2000
Pendahulu : Mauno Koivisto
Pengganti : Tarja Halonen
Lahir : 23 Juni 1937 (umur 71)
Viipuri, Finlandia
Kebangsaan : Finlandia
Partai politik : Sosial Demokratik
Suami/Istri : Eeva Irmeli Ahtisaari

Martti Oiva Kalevi Ahtisaari (IPA: [ˈmɑrti ˈoivɑ ˈkɑlevi ˈɑxtisɑ:ri]) (lahir di Viipuri (sekarang Vyborg di Rusia)), 23 Juni 1937; umur 71 tahun) adalah Presiden Finlandia periode 1 Maret 1994–1 Maret 2000. Ia juga seorang diplomat atau Utusan Khusus dan mediator PBB urusan status Kosovo. Selain, sebagai diplomat dan mediator untuk PBB dengan reputasi internasional.


Seorang mediator

Pertama kali, ia diminta untuk menengahi konflik Aceh pada Februari 2004. Ia membutuhkan sekitar delapan bulan untuk menyelesaikan naskah kesepahaman Helsinki dan ia tampil sebagai aktor utama di balik penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005. Atas perannya itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Utama pada 18 Agustus 2006 di Istana Merdeka, Jakarta. Ia memimpin lembaga internasional Crisis Management Initiative sejak 2000. Ia melanglang buana ke mana-mana untuk mengupayakan penyelesaian konflik. Ia pernah mempertemukan Viktor Chernomyrdin dengan Slobodan Milosevic untuk mengakhiri pertikaian di Kosovo pada tahun 1999.

Atas jasa-jasanya dalam mengusahakan perdamaian dunia, pada tahun 2008 ia dianugerahi Nobel Perdamaian.

Martti Ahtisaari di Anugrahi Nobel Perdamaian 2008



Mantan presiden finlandia yang pada hari jumat 10 october 2008 di anugrahi Nobel Perdamaian 2008 itu memang dikenal sebagai pribadi sederhana. Kompas dan TVRI sempat menyaksikan sendiri keserhanaan marrti ketika menunggunya untuk wawancara khusus,diawal musim semi.september musim lalu.

Dia berkeyakinan semua konflik bisa diatasi. Dia juga yakin seorang mediator hanya perlu menyederhanakan masalah agar sebuah perundingan damai yang ditanganinya berjalan sukses.” jangan membuat masalah jadi rumit. Anda harus bisa menyampaikan masalah mana yang penting untuk diselesaikan,”katanya.
Selain di Aceh, Martti berhasil mengakhiri konflik di Namibia dan kosovo. Dia juga ikut dalam upaya mengakhiri konflik di irlandia dan irak.
Karena perannya sebagai juru damai di berbagai lokasi konflik dunia, martti di anugrahi nobel perdamaian 2008. Sebelumnya, awal bulan ini dia juga mendapat penghargaan dari UNNESCO karena telah membangkitkan hidupnya untuk perdamaian. Dia mengaku bekerja untuk proyek perdaamaian dunia bersama PBB setidaknya selama 30 tahun, sejak tahun 1977.

BIODATA

 Nama : martti ahtisaari
 Lahir : Viipuri,23 juni 1937
 Istri : Eeva Irmeli Hyvarinnen
 Anak : Marko Ahtisaari
 Jabatan : ketua dewan crisis management initiative
 Pendidikan :
 Lulus dari universitas of Oulu finlandia tahun 1959
 Menerima gelar doktor kehormatan dari berbagai Universitas di Dunia
 Karier :
  • Pernah menjabat sebagai duta besar finlandia untuk tanzania, mozambik, zambia, dan somalia dalam kurun waktu 1973 – 1976
  • Perwakilan kusus PBB untuk bekas yugoslavia
  • Presiden finlandia tahun 1994 – 2000
  • Utusan khusus sekjen PBB untuk kosovo tahun 2005
 Awards :
  • 2000: J. William Fulbright Prize for International Understanding
  • 2000: Four Freedoms Award
  • 2000: Hessen Peace Prize[23]
  • 2004: OR Tambo Award
  • 2008: Delta Prize for Global Understanding
  • 2008: Félix Houphouët-Boigny Peace Prize
  • 2008: Nobel Peace Prize